Rabu, 20 November 2024

Apa perbedaan Brushless motor dan brushed motor

 

Brushless motor dan brushed motor adalah dua jenis motor listrik yang sering digunakan dalam aeromodelling dan drone. Berikut adalah perbedaan utama antara keduanya:

1. Konstruksi

  • Brushed Motor:
    • Menggunakan sikat karbon (brush) untuk menghubungkan arus listrik ke kumparan melalui komutator.
    • Memiliki rotor (bagian yang berputar) yang berisi kumparan, dan stator (bagian diam) yang berisi magnet permanen.
  • Brushless Motor:
    • Tidak menggunakan sikat. Mengandalkan elektronik (ESC, Electronic Speed Controller) untuk mengontrol aliran listrik ke kumparan.
    • Kumparan berada di stator, sedangkan rotor memiliki magnet permanen.

2. Efisiensi

  • Brushed Motor:
    • Lebih rendah efisiensinya karena gesekan antara sikat dan komutator, serta kehilangan energi akibat panas.
  • Brushless Motor:
    • Lebih efisien karena tidak ada gesekan mekanis dari sikat, sehingga lebih sedikit panas yang dihasilkan.

3. Daya Tahan

  • Brushed Motor:
    • Memiliki masa pakai lebih pendek karena sikat karbon aus seiring waktu dan perlu diganti secara berkala.
  • Brushless Motor:
    • Lebih tahan lama karena tidak ada komponen mekanis yang aus secara langsung.

4. Kinerja

  • Brushed Motor:
    • Biasanya memiliki kecepatan dan torsi yang lebih rendah.
    • Cocok untuk aplikasi sederhana atau dengan anggaran terbatas.
  • Brushless Motor:
    • Memberikan kinerja yang lebih baik dengan kecepatan tinggi, torsi tinggi, dan respons lebih cepat.
    • Cocok untuk aplikasi yang membutuhkan presisi dan daya tinggi, seperti drone dan pesawat aeromodelling.

5. Perawatan

  • Brushed Motor:
    • Membutuhkan perawatan rutin, seperti penggantian sikat karbon.
  • Brushless Motor:
    • Praktis tanpa perawatan (maintenance-free) karena tidak ada sikat.

6. Harga

  • Brushed Motor:
    • Lebih murah, sehingga sering digunakan untuk proyek pemula atau mainan sederhana.
  • Brushless Motor:
    • Lebih mahal, tetapi investasi ini sebanding dengan kinerja dan daya tahannya.

7. Aplikasi pada Aeromodelling dan Drone

  • Brushed Motor:
    • Umumnya digunakan pada mainan drone kecil atau pesawat ringan yang tidak memerlukan daya besar.
  • Brushless Motor:
    • Pilihan utama untuk drone dan aeromodelling profesional, karena membutuhkan efisiensi tinggi, daya besar, dan umur panjang.

Ringkasan

Brushless motor lebih unggul dalam hampir semua aspek, termasuk efisiensi, daya tahan, dan kinerja, tetapi memiliki biaya awal lebih tinggi. Brushed motor lebih cocok untuk aplikasi sederhana atau budget-friendly.

Beberapa Flight Controller yang populer

 Flight controller adalah otak dari sebuah drone atau pesawat tak berawak (UAV), yang bertugas untuk mengendalikan pergerakan drone berdasarkan input dari pilot dan sensor onboard. Ada beberapa flight controller populer yang banyak digunakan di kalangan hobiis, profesional, dan industri, masing-masing memiliki kelebihan dan spesifikasi yang cocok untuk berbagai aplikasi.

1. Betaflight

  • Popularitas: Sangat populer di komunitas drone balap (FPV racing) dan freestyle.
  • Fitur:
    • Kompatibel dengan berbagai hardware flight controller berbasis STM32.
    • Mendukung konfigurasi yang sangat fleksibel melalui software Betaflight Configurator.
    • PID tuning, filter gyro/accel, dan OSD (On-Screen Display) yang canggih.
  • Kelebihan:
    • Fokus pada performa dan respons yang cepat untuk drone balap.
    • Update firmware secara berkala dengan fitur-fitur terbaru.
  • Cocok Untuk: Drone balap FPV, freestyle, dan mini quadcopter.

2. ArduPilot (ArduCopter/ArduPlane)

  • Popularitas: Digunakan oleh kalangan profesional, industri, dan hobiis untuk misi yang kompleks.
  • Fitur:
    • Open-source dengan kemampuan autonomous flight yang canggih.
    • Mendukung berbagai sensor dan modul tambahan seperti GPS, lidar, dan kamera.
    • Kompatibel dengan platform hardware seperti Pixhawk, CubePilot, dan lainnya.
  • Kelebihan:
    • Dokumentasi yang sangat lengkap dan komunitas yang besar.
    • Mampu menangani misi otonom yang kompleks seperti pemetaan, survey, dan pengiriman.
  • Cocok Untuk: Drone komersial, riset, mapping, dan aplikasi industri.

3. PX4

  • Popularitas: Alternatif kuat untuk ArduPilot di kalangan profesional dan industri.
  • Fitur:
    • Open-source dengan fokus pada kestabilan dan skalabilitas.
    • Dukungan multi-vehicle dan kontrol sistem yang real-time.
    • Integrasi dengan ROS (Robot Operating System) untuk aplikasi robotika.
  • Kelebihan:
    • Mendukung berbagai jenis kendaraan, termasuk quadcopter, fixed-wing, dan VTOL.
    • Dikembangkan dengan pendekatan keamanan dan kestabilan yang kuat.
  • Cocok Untuk: Industri, aplikasi militer, dan drone riset.

4. INAV

  • Popularitas: Populer untuk drone yang memerlukan penerbangan yang lebih stabil, seperti long-range dan fixed-wing.
  • Fitur:
    • Mendukung fitur autonomous seperti return-to-home (RTH) dan waypoint.
    • Kompatibel dengan berbagai hardware seperti F4 dan F7 flight controller.
  • Kelebihan:
    • Fokus pada penerbangan yang mulus dan fitur GPS-based.
    • Memiliki fitur stabilisasi baik untuk quadcopter maupun fixed-wing.
  • Cocok Untuk: Long-range FPV, drone fotografi, dan fixed-wing.

5. DJI Naza dan A3

  • Popularitas: Sangat populer di kalangan pengguna drone siap terbang (RTF) dan fotografi udara.
  • Fitur:
    • Plug-and-play dengan sistem DJI.
    • Stabilitas tinggi dan mode penerbangan yang mudah seperti GPS hold dan RTH.
  • Kelebihan:
    • Didesain untuk kemudahan penggunaan.
    • Terintegrasi dengan ekosistem DJI seperti kamera dan gimbal.
  • Cocok Untuk: Fotografi dan videografi udara, serta pengguna non-teknis.

6. KISS (Keep It Super Simple)

  • Popularitas: Digemari oleh pilot FPV yang mencari setup minimalis dan responsif.
  • Fitur:
    • Sistem sederhana dengan fokus pada pengalaman penerbangan.
    • Firmware yang ringan dan efisien.
  • Kelebihan:
    • Sangat mudah diatur.
    • Respons yang sangat halus dan cocok untuk freestyle FPV.
  • Cocok Untuk: Freestyle dan drone FPV sederhana.

7. Autopilot DJI (Contoh: A2, A3, Matrice Series)

  • Popularitas: Digunakan secara luas dalam drone DJI komersial dan industri.
  • Fitur:
    • Penerbangan otomatis dan stabilitas tingkat tinggi.
    • Kompatibel dengan payload industri seperti kamera termal.
  • Kelebihan:
    • Keandalan yang sangat baik untuk aplikasi kritis.
    • Sistem terpadu yang mengurangi kebutuhan konfigurasi manual.
  • Cocok Untuk: Aplikasi komersial dan profesional.

Pilihan Berdasarkan Kebutuhan

  • Hobiis FPV Racing: Betaflight, KISS.
  • Misi Otonom dan Industri: ArduPilot, PX4.
  • Fotografi dan Videografi: DJI Naza, DJI A3.
  • Penerbangan Jarak Jauh: INAV.

Setiap flight controller memiliki ekosistem dan komunitas pendukung, sehingga pilihan terbaik tergantung pada kebutuhan spesifik Anda, seperti jenis drone, aplikasi, dan tingkat keahlian.

Apa itu Flight Controller (FC) pada Drone

 

Flight Controller (FC) adalah perangkat elektronik utama dalam sistem pesawat tak berawak (Unmanned Aerial Vehicle, UAV), seperti drone. Fungsi utamanya adalah untuk mengontrol dan menstabilkan penerbangan dengan memproses data dari berbagai sensor, mengatur kecepatan motor, dan menerima perintah dari pengendali (remote control) atau perangkat lunak autopilot.

Fungsi Utama Flight Controller

  1. Stabilisasi Penerbangan:
    • Menggunakan data dari sensor seperti gyroscope (gyro) dan accelerometer untuk menjaga keseimbangan drone.
  2. Pengendalian:
    • Mengatur kecepatan motor atau aktuator lainnya sesuai perintah dari pilot atau sistem autopilot.
  3. Pemrosesan Data Sensor:
    • Mengolah input dari sensor tambahan seperti GPS, kompas, altimeter, atau kamera untuk mendukung navigasi dan pengambilan keputusan.
  4. Komunikasi:
    • Berfungsi sebagai penghubung antara pilot (melalui remote control) atau perangkat lunak dan perangkat keras di drone.
  5. Eksekusi Misi Otonom:
    • Mendukung fitur autopilot seperti waypoint navigation, return-to-home (RTH), atau fungsi lainnya.

Komponen Utama pada Flight Controller

  1. Prosesor Utama:
    • Chip seperti STM32 yang menangani pemrosesan data dari sensor dan menjalankan algoritma kontrol.
  2. Sensor:
    • Gyroscope dan Accelerometer: Untuk stabilitas dan orientasi.
    • Barometer: Mengukur tekanan udara untuk menentukan ketinggian.
    • GPS: Untuk navigasi dan pelacakan lokasi.
    • Kompas (Magnetometer): Untuk orientasi arah.
  3. Port Input/Output (I/O):
    • Port untuk menghubungkan motor (ESC), sensor tambahan, modul telemetri, atau perangkat lainnya.
  4. Firmware:
    • Perangkat lunak yang mengontrol cara kerja flight controller, seperti ArduPilot, PX4, BetaFlight, atau iNav.

Jenis Flight Controller Berdasarkan Aplikasi

  1. Flight Controller untuk Multirotor:
    • Dirancang untuk drone seperti quadcopter atau hexacopter.
    • Contoh: Pixhawk, Holybro Kakute, DJI Naza.
  2. Flight Controller untuk Fixed-Wing:
    • Digunakan pada pesawat dengan sayap tetap (fixed-wing).
    • Contoh: Matek F405-Wing.
  3. Flight Controller Racing:
    • Khusus untuk drone balap dengan latensi rendah dan respon cepat.
    • Contoh: T-Motor F7, SpeedyBee.
  4. Flight Controller Hybrid:
    • Mendukung berbagai jenis kendaraan seperti rover, boat, atau VTOL.
    • Contoh: Pixhawk Cube, CUAV.

Kelebihan Flight Controller

  1. Stabilisasi Otomatis:
    • Memungkinkan penerbangan yang lebih stabil meskipun pilot tidak terlalu ahli.
  2. Otonomi:
    • Mendukung misi tanpa pengawasan langsung dengan fitur autopilot.
  3. Kustomisasi:
    • Mendukung berbagai konfigurasi dan jenis sensor sesuai kebutuhan.
  4. Kompatibilitas:
    • Bisa digunakan dengan berbagai jenis kendaraan, dari drone hingga robot darat.

Kekurangan Flight Controller

  1. Kerumitan Pengaturan:
    • Membutuhkan waktu untuk konfigurasi dan kalibrasi, terutama untuk pengguna baru.
  2. Ketergantungan pada Firmware:
    • Performanya sangat bergantung pada firmware yang digunakan.
  3. Harga:
    • Flight controller kelas atas bisa mahal, terutama jika dirancang untuk aplikasi industri.
  4. Rentan terhadap Gangguan:
    • Sensor internal seperti kompas atau GPS bisa terpengaruh oleh gangguan elektromagnetik.

Kesimpulan

Flight Controller adalah otak dari sistem UAV. Pilihan FC yang tepat sangat bergantung pada kebutuhan aplikasi, baik untuk hobi, penelitian, maupun industri. Kombinasi perangkat keras yang andal dan firmware yang sesuai akan memastikan performa optimal dari drone atau kendaraan tak berawak.

Apa itu Pixhawk - Flight Controller Open Source

Pixhawk adalah Flight Controller autopilot yang dirancang untuk mengendalikan sistem kendaraan tak berawak (Unmanned Aerial Vehicles/Systems, UAV/UAS), baik di udara, darat, atau laut. Pixhawk sering digunakan dalam aplikasi drone untuk rekreasi, penelitian, hingga proyek industri karena fleksibilitas dan skalabilitasnya. Sistem ini didukung oleh perangkat lunak open-source seperti PX4 dan ArduPilot.

Pixhawk pertama kali diperkenalkan oleh Lorenz Meier dan komunitas pengembang open-source sebagai solusi untuk sistem autopilot modular dan canggih.

Jenis dan Tipe Pixhawk

Pixhawk memiliki berbagai versi dan tipe yang terus berkembang. Berikut adalah daftar beberapa versi utama dan turunannya:

1. Pixhawk 1

Versi pertama dari Pixhawk yang populer dengan mikroprosesor STM32F4. Model ini memiliki banyak variasi buatan pihak ketiga, misalnya:
  • Pixhawk 1 (3DR Original): Didesain oleh 3D Robotics dan open-source.
  • Pixhawk 2.4.8: Versi buatan pihak ketiga yang lebih terjangkau dan banyak digunakan dalam aplikasi hobi.

2. Pixhawk 2 (The Cube)

Dikenal dengan desain berbentuk kubus modular, menawarkan fitur lebih canggih:
  • Pixhawk Cube Black: Versi standar.
  • Pixhawk Cube Orange: Lebih kuat dengan mikroprosesor H7, mendukung aplikasi berat.
  • Pixhawk Cube Blue/Yellow: Versi khusus untuk sertifikasi penerbangan.

3. Pixhawk 4

Model yang dirancang untuk performa tinggi dengan dukungan PX4. Diproduksi oleh Holybro, dengan peningkatan:

  • Lebih banyak port I/O.
  • Prosesor STM32F7.

4. Pixhawk 5X

Evolusi dari Pixhawk 4, lebih kuat dengan fitur tambahan seperti:

  • Kompatibilitas sensor modern.
  • Performa lebih baik untuk aplikasi berbasis AI.

5. Pixhawk 6X dan 6C

Versi terbaru, menawarkan:

  • Desain lebih kompak (6C).
  • Kompatibilitas lebih luas dengan sensor baru.

6. Pixhawk Mini

Didesain untuk drone kecil dengan fitur serupa Pixhawk 1, tetapi dalam ukuran lebih ringkas.

7. Versi Alternatif

Ada juga perangkat autopilot berbasis Pixhawk seperti CUAV V5+, mRo Pixhawk, atau Durandal, yang menawarkan peningkatan spesifik.




Kelebihan Pixhawk

  1. Fleksibilitas: Kompatibel dengan berbagai jenis kendaraan (quadcopter, fixed-wing, rover, dll.).
  2. Open Source: Didukung komunitas yang luas dengan perangkat lunak PX4 dan ArduPilot.
  3. Dukungan Ekosistem: Kompatibel dengan banyak sensor, GPS, dan perangkat periferal lainnya.
  4. Modularitas: Desain modular memungkinkan upgrade tanpa mengganti seluruh sistem.
  5. Stabilitas dan Presisi: Dilengkapi IMU (Inertial Measurement Unit) ganda dan redundansi sensor untuk stabilitas.

Kekurangan Pixhawk

  1. Kompleksitas Pengaturan: Membutuhkan pemahaman teknis untuk konfigurasi dan kalibrasi.
  2. Harga: Beberapa model canggih seperti Cube Orange atau Cube Blue cukup mahal.
  3. Ketergantungan pada Komponen Tambahan: Sistem seperti GPS, ESC, dan motor berkualitas tinggi sering diperlukan untuk performa optimal.
  4. Kompatibilitas: Versi lebih tua mungkin tidak mendukung perangkat keras baru.

Aplikasi Pixhawk

  1. Hobi Drone: Digunakan oleh penggemar untuk membuat drone kustom.
  2. Penelitian: Dalam pengembangan teknologi otonom, termasuk AI dan navigasi.
  3. Industri: Pemetaan, inspeksi, pengiriman, dan pertanian.
  4. Keamanan dan Militer: Digunakan untuk pengintaian dan misi otonom.

Dengan berbagai jenis dan versinya, Pixhawk tetap menjadi pilihan populer karena fleksibilitas, komunitas pendukung, dan perangkat keras yang dapat diandalkan.

Sabtu, 19 September 2015

Two Axis Brushless Gimbal Generic Murah, Unboxing & Review Singkat

Oke kali ini mau bahas 2 Axis Brushless Gimbal generic murah, Kenapa Generic? pada dasarnya gimbal ini tidak mempunyai merk, jika pun ada yang memberi merk, itu hanya pencantuman saja :)

Apaan sih Brushless Gimbal? Untuk penjelasan teknisnya sih kurang tau, tapi singkatnya alat ini dapat membantu dalam mengambil Aerial Photography & Videography agar video stabil.

So ingat bagaimana cara kerja multicopter yang sudah dibahas disini? Saat multicopter anda berjalan, contohnya maju, maka drone akan condong / miring kedepan, jika anda tidak memakai gimbal sudah pasti video akan bergerak mengikuti multicopter untuk miring. Tidak hanya saat bergerak, saat diam pun bahkan akan jauh dari kata stabil jika anda tidak memakai gimbal.

Nah dengan Brushless Gimbal ini lah anda akan mendapatkan video yang smooth stabil.

Yuk kita mulai Unboxing nya, kita mulai dari melihat box nya terlebih dahulu.

Two Axis Brushless Gimbal Generic
Untuk box nya lumayan kok, tidak seperti box lainnya yang hanya putih atau coklat polos seperti gimbal yang pernah saya beli di ebay, box Brushless Gimbal ini ada cetakan brand, deskripsi dan sedikit spesifikasi.

Buka box nya yuks
Isi Box
Saat dibuka agak kaget juga, dari atas tidak ada pelindung seperti buble wrap huhu, Dibagian bawah baru ada pelindung buble wrap, selain itu tidak ada pelidung lain. Saat diambil anda akan mendapatkan seperti dibawah ini.
Brushless Gimbal lengkap dengan anti-vibration rubber

Camera Strap dan kabel untuk ke Flight Controller
Oh iya bro, Gimbal ini sudah include gimbal controller & sensor (BGC2.0), jadi bukan hanya frame dan motor saja. So gk perlu lagi tuning, tinggal colok power sudah bisa dipakai.

Gimbal controller & sensor (BGC2.0)
Gimbal frame bahannya dari CNC aluminum alloy, sangat kuat namun ringan. Brushless yang dipakai adalah 2208 motors cukup kuat untuk membawa action camera dengan berat kurang lebih seperti Go Pro 3 & 4.

Two Axis Brushless Gimbal Generic dengan Go Pro

Two Axis Brushless Gimbal Generic dengan Xiaomi Yi

Oh iya, yang photo dengan Xiaomi Yi seperti nya plate untuk dudukannya kebalik, yang benar seperti gambar dengan Go Pro (walaupun tidak bermasalah).

Keseluruhan gimbal ini memiliki berat 400gram, cukup ringan atau berat standard untuk gimbal 2 axis.

Gimbal ini dapat anda pakai di Multicopter RTF seperti DJI Phantom, WLToys, Walkera, dll. Juga dapat dipasang di Quadcopter Rakitan kok. Saya test menggunakan battery li po 3S, saya kurang tahu apabila gimbal ini dapat dipakai digunakan untuk battery tipe lain atau tidak :)


Two Axis Brushless Gimbal Generic dipasang di DJI Phantom

Bagaimana hasil dari gimbal ini? Yuk kita lihat hasilnya di video berikut


Cakep kan, Stabil banget bro!

Oh iya, ada tombol di gimbal ini, beberapa fungsi adalah :

  • 1click set tilt angles by hands
  • 2 clicks calibrate ACC
  • 3 clicks calibrate gyro
  • long press reset controller


Kesimpulan, apakah gimbal ini worth untuk dibeli? Menurut saya sangat worth! karena harga murah namun hasilnya sangat smooth dan tinggal pasang aja tanpa perlu pusing untuk tunning.

Anda dapat memakai di Quadcopter, Hexacopter, hingga DIY Handheld Brushless Gimbal kira-kira seperti gambar dibawah ini
Handheld Brushless Gimbal
Ya.. Gimana kreatif anda, mau bikin untuk di motor? Sepeda? kemungkinan bisa kok ;)

Yup, segitu saja review singkat dan unboxing kali ini, apakah ada yang minat gimbal seperti ini? atau cari yang lebih mahal? atau cari yang 3 Axis Gimbal? Tulis komentar kamu dibawah yah :D


 
Copyright 2010 Quadcopter | Drone | FPV | Aeromodelling. All rights reserved.